Search

Jumat, 04 Mei 2012

Sutradara Film Bernafas Islami

 

Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Keluarga Markum, Bintang Kejora dan Ketika Cinta Bertasbih merupakan sebagian film yang ia sutradarai dan mendapat tempat di hati para penikmat film. Di kala dunia perfilman dipenuhi tema horor dan komedi vulgar, peraih Piala Citra 1992 untuk kategori Sutradara Terbaik ini lebih banyak menyutradarai film-film bernafas Islami

Sutradara kelahiran Tegal, 4 April 1943 ini sejak kecil sudah gemar menggeluti dunia seni peran. Walaupun bercita-cita menjadi polisi, pemilik nama lengkap Iman Chaerul Umam ini gemar berteater di desa kelahirannya. Untuk menyalurkan hobinya itu, ia mendirikan sebuah grup teater bernama Ababalu. Lewat grup teater tersebut, anak ketiga dari empat bersaudara ini merekrut tetangganya yang berprofesi sebagai tukang krupuk, tukang obat, hingga pembatik untuk ikut ambil bagian dalam berbagai pertunjukan sandiwara.

Setamat SMP, Chaerul hijrah ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya. Di kota berjuluk Kota Pelajar itu, Chaerul sempat berkuliah selama tiga semester di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Di kampus itu, pria yang biasa disapa Mamang ini membentuk grup teater bernama Pentas Cuwiri bersama dua rekannya, Syu'bah Asa dan Abdurrachman Saleh. Ia juga aktif dalam Teater HMI serta Bengkel Teater pimpinan WS Rendra.

Ia mulai berkenalan dengan dunia perfilman saat diminta sutradara D. Djajakusuma menjadi pengisi suara (dubber) sebuah film. Chaerul yang semasa SMA biasa bermain band ini tidak kikuk ketika harus menghadapi mikrofon. ''Eh, tak tahunya dibayar,'' kata Chaerul seperti dikutip dari situs pdat.co.id. Jumlah bayaran yang ia terima sama dengan honornya sekali main drama yang latihannya berbulan-bulan. ''Pikiran saya waktu itu, enak benar jadi orang film, duitnya banyak,'' ujar pengagum sutradara asal Jepang Akira Kurosawa ini.

Debutnya sebagai sutradara pada tahun 1975 juga berawal dari ketidaksengajaan. Ketika itu, film Tiga Sekawan, produksi Kwartet Jaya pimpinan Eddy Sud mulanya akan digarap oleh sutradara Asrul Sani. Namun, dua minggu sebelum syuting, Asrul Sani mendadak mengundurkan diri. Tiga sutradara top di masa itu yakni Misbach Jusa Biran, Wahju Sihombing, dan Nya Abas Acub diminta menggantikan peran Asrul. Namun mereka semua menolak. Acub malah mengusulkan Chaerul yang memang pernah melamar sebagai pengganti Asrul Sani. Sejak saat itu, Chaerul Umam pun menjadi sutradara.

Meski tidak berlatar belakang pendidikan sinematografi, Chaerul rajin membaca buku dan banyak belajar film dari sutradara ternama seperti Sjumandjaja, Motinggo Boesje dan Teguh Karya. Ia pun tak sembarangan menerima tawaran yang datang padanya sebab ia mematok beberapa kriteria, yakni skenario yang baik, misi yang jelas, dan tidak mau didikte. Film komedi yang menyuguhkan adegan seks vulgar akan langsung ditampiknya.

Nama Chaerul Umam mulai diperhitungkan di jagad perfilman pada tahun 1977 setelah membesut film Al Kautsar, produksi PT Sippang Jaya Film, serta film Titian Serambut Dibelah Tujuh yang dirilis tahun 1983, produksi PT Kofina. Al Kautsar meraih penghargaan dari Festival Film Asia di Bangkok untuk Film Budaya Sosial Terbaik dan Rekaman Suara Terbaik. Kedua film bernafaskan Islam itu digarapnya dengan begitu apik. Dalam menggarap film reliji, Chaerul nampaknya tak terlalu menemui kendala, mungkin karena sejak kecil ia tumbuh di lingkungan yang agamis. Ia dididik dalam ketaatan beragama terutama dari sang ibu yang dikenal sebagai ustadzah.

Meski demikian, Chaerul tidak terjebak dalam satu genre saja. Chaerul juga sukses menjadi sutradara film drama percintaan, antara lain Gadis Marathon, Kejarlah Daku Kau Kutangkap dan Ramadhan dan Ramona. Judul film yang terakhir disebutkan bahkan berhasil mengantarkan Chaerul meraih Piala Citra sebagai Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 1992.

Pada era tahun 90-an ketika dunia perfilman Tanah Air sedang lesu dari film-film nasional berkualitas, ayah dua anak ini mulai menyutradarai sinetron bertema reliji seperti Jalan Lain Ke Sana, Jalan Takwa, Astagfirullah, dan Maha Kasih.

Di kala dunia perfilman Indonesia mulai menggeliat di awal tahun 2000-an, Chaerul kembali menyemarakkan industri perfilman. Setelah pada tahun 2006 Hanung Bramantyo menggebrak dengan film reliji fenomenalnya yang diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta, Chaerul pun tak mau ketinggalan. Pada tahun 2008, ia dipercaya menggarap film yang juga diadaptasi dari karya novelis yang sama, Ketika Cinta Bertasbih (KCB).

KCB pun menuai sukses. Bedanya, jika Ayat-Ayat Cinta menampilkan bintang utama yang sudah cukup mempunyai nama, KCB justru memasang wajah-wajah baru sebagai bintang utamanya yakni Muhamad Cholidi Asadil Alam dan Okkie Setiana Dewi. Semua pemain merupakan pemuda-pemudi terpilih yang dinilai paling mendekati karakter-karakter dalam novelnya, yang sekaligus juga diharapkan dapat menjadi contoh yang baik bagi para pemuda masa kini.
Di kala dunia perfilman Indonesia mulai menggeliat di awal tahun 2000-an, Chaerul kembali menyemarakkan industri perfilman. Setelah pada tahun 2006 Hanung Bramantyo menggebrak dengan film reliji fenomenalnya yang diangkat dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta, Chaerul pun tak mau ketinggalan. Pada tahun 2008, ia dipercaya menggarap film yang juga diadaptasi dari karya novelis yang sama, Ketika Cinta Bertasbih (KCB).

Untuk mendapatkan pemain yang sesuai tuntutan skenario, diadakan audisi di sembilan kota besar di Indonesia yang dibanjiri ribuan orang. Chaerul cukup terkejut dengan besarnya jumlah peminat, padahal persyaratan yang dipatok cukup berat yakni bisa membaca Al Quran, berbahasa Arab, sholeh/sholehah, serta memiliki karakter dan berpenampilan menarik.

Kehadiran film yang turut menampilkan aktor kawakan seperti Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Didi Petet, dan El Manik itu juga disambut gembira oleh penggemar bukunya yang tersebar di beberapa negara. Tidak hanya di Indonesia, film yang didapuk sebagai film 'Pembangun Jiwa' ini juga dapat dinikmati oleh penonton di 7 negara lainnya seperti Brunei, Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Mesir dan Australia. Tidak hanya itu, keaslian novelnya pun terjaga dengan syuting yang dilakukan di lokasi aslinya, Mesir, selama 22 hari. Suatu pencapaian yang luar biasa mengingat sulitnya mengantongi izin syuting di sana.

Sebagai sutradara senior yang kerap menghasilkan film-film berkualitas, Chaerul menaruh harapan besar agar film-film bermuatan agama semakin meramaikan bioskop Tanah Air. Terlebih di tengah kepungan film bertema horor dan komedi seks yang kian marak belakangan ini.

Menurut Chaerul, pembuatan film bertema reliji masih terkendala sumber daya manusia. Sebab banyak pihak yang belum siap dan sadar untuk menyuguhkan tema Islam sebagai alternatif membuat film, dibandingkan tema-tema lain yang mungkin lebih diminati. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya film bertema religi yang dibuat dan diputar di bioskop namun dibuat oleh sutradara yang itu-itu saja. Tidak banyak yang mau membuat film bertema reliji.

Selain masalah sumber daya manusia, pembuatan film reliji juga terkendala sumber dana karena banyak produser yang cenderung memilih film dengan tema-tema lain yang dianggap lebih memiliki nilai jual dibandingkan dengan film reliji.

Sutradara yang kerap tampil sebagai pembaca cerita pendek ini juga menjelaskan, pembuatan film bertema reliji harus lebih mengutamakan nilai dakwah tanpa meninggalkan unsur-unsur yang membuat film tersebut memiliki nilai jual. Walaupun pada kenyataannya, nilai dakwah dan nilai jual merupakan dua hal yang berbeda dan tidak dapat disamakan.

Ketika disinggung soal kekhawatiran merebaknya film-film reliji yang dijadikan aji mumpung, ia mengatakan, hal itu bisa dihindari dengan selektif membuat film agar film yang dihasilkan dapat berkualitas. "Kalau memang bagus, kan tidak apa-apa," kata Dirut PT Prasidi Teta Film ini.

Chaerul mengatakan, pihaknya gencar menggelar workshop pembuatan film untuk melatih dan menyadarkan masyarakat dan ternyata banyak diminati, terutama oleh kalangan muda. Menurut dia, hal terpenting untuk membuat film reliji adalah kedekatan pembuat film dengan masalah yang akan diangkat dalam film dan pembuat film reliji juga harus benar-benar menguasai seluk beluk permasalahan berkaitan dengan agama Islam, selain soal sinematografi.

"Kalau ditanya bagaimana ilmu untuk membuat film reliji, sebenarnya memang tidak ada ilmunya, namun yang terpenting pembuatan film tersebut jangan dipaksakan," kata sutradara yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah ini. eti | muli, red

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Category

Tutorial PHP, Belajar PHP, PHP